Breaking News
recent

Air Terjun Kayang, Bak Khayangan

Perjalanan yang cukup melelahkan untuk mencapai dasar air terjun  Kayang yang terletak    terletak di Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang. Namun beberapa orang menganggap air terjun ini masuk wilayah Kabupaten Boyolali. Cukup wajar karena lokasinya berbatasan langsung dengan Kabupaten Boyolali. terbayarkan dengan keindahan alam yang dipancarkan oleh air terjun ini.

Bunyi derasnya air yang jatuh dari ketinggian membuat perasaan serasa damai diiringi dengan bunyi kicauan burung yang banyak terdapat di sekitar area ini, sayang keberadaan obyek wisata ini masih sedikit orang yang mengetahuinya karena belum dikelola secara maksimal.

Memasuki area obyek wisata ini janagan terlalu berharap anda akan disambut dan disuguhi atribut dan suasana bak tempat wisata yang mapan, Karen yang akan menyambut anda pertama menjejakkan kaki yang ada hanyalah gerbang sederhana, bahkan  banyak orang mengira itu adalah gerbang  jalan menuju ke perkampungan. Gerbang obyek wisata tersebut terdapat pada jalan membelok dan di dekatnya terdapat jalan kecil menuju ke lokasi bumi perkemahan.

Nama Kedung Kayang diperoleh dari Para Empu yang berada di sekitar Kedung Kayang, yaitu:
1.Empu Panggung
2.Empu Putut
3.Empu Khalik.

Pada jaman dahulu para empu tersebut sering mengadakan pertemuan di lokasi tersebut. Menurut para empu bahwa sungai Pabelan sangat memberikan barokah pada masyarakat sekitar sungai itu, walaupun sungai itu sebagian besar berasal dari Gunung Merbabu dan sebagian dari Gunung Merapi, tetapi sangat dipercayai bahwa Sungai tersebut tidak akan mengalirkan Lahar Panas dari kedua Gunung tersebut. Karena sangat dipercayai bahwa ditempat itu ada yang menunggu yaitu Kyai Gadung Melati dan Nyai Widari Welas Asih.

Para empu tersebut di atas mengadakan pertemuan yang tujuannya akan mengadakan adu kesaktian yang berupa Tanding Balang (Adu Lempar). Tanding Balang tersebut dilaksanakan pada bulan Suro (muhharom). Yang intinya “Siapa yang bisa Balang Kedung itu dengan telur angsa melempar Kedung dengan telur) dan masih utuh bila sampai di kedung itu maka dialah pemenangnya.

Ternyata telur tersebut semuanya dari ketiga empu tersebut pecah setelah masuk di kedung tersebut, kemudian para empu tersebut menuruni tebing untuk melihat kedung itu. Namun anyangannya (cengkarang) telur itu tidak ada di dalam kedung tersebut. Atau hilang tanpa bekas. 

Para empu tersebut sepakat untuk memberikan nama kedung tersebut dengan nama Kedung Kayang. Selanjutnya pecahan dari telur itu oleh Kyai Gadung Melati dan Nyai Widari Welas Asih ditimbulkan berupa Mata Air yang berada di depan Air Terjun yang akan mengalir sepanjang tahun.

Kedung Kayang terdapat keunikan dan keanehan tersendiri, yaitu bila di bulan Suro (muhharom) pada hari malam Jum’at Kliwon sering terdengar suara/ alunan Gamelan Jawa dan pada hari Kamis Wage semua kera-kera yang ada di sekitar Kedung Kayang berkumpul di atas air terjun tersebut. Dan masih banyak keajaiban yang lain yang sering ditemui oleh masyarakat setempat maupun pengunjung yang berada di Kedung Kayang.

Mata air yang ada di sekitar air terjun itu ada yang bernama mata Air Penguripan yang biasa dimanfaatkan oleh orang-orang untuk berbagai keperluan dan tujuan.   Ada juga yang dinamakan Mata Air Kinasihan yang juga dipercaya bermanfaat besar bagi yang memerlukan.

Menelusuri jalan sejauh 100 meter dan memarkir kendaraan, tidak serta merta Anda  akan dimanjakan  keindahan air terjun dari kejauhan. Anda harus berjalan kaki sejauh 200 meter menuju ke bagian tebing untuk melihat pemandangan air terjun Kedung Kayang dari atas.

Air Terjun Kedung Kayang merupakan salah satu obyek wisata yang dilalui Jalur Wisata Borobudur-Selo-Solo (SBB). Air terjun yang memiliki tinggi sekitar 30 meter ini terbilang masih alami dan belum diekploitasi secara besar-besaran.

Untuk menuju ke bagian bawah air terjun,Anda harus melakukan perjalanan memutar sejauh 1km melewati persawahan dan daerah aliran sungai. Di lokasi itu Anda akan menemukan sebuah Goa Jepang yang ukurannya kecil dengan tinggi setengah meter. Para pengunjung hanya bisa melihat mulut goa saja karena goa sangat sulit untuk memasuki goa yang didalamnya sudah banyak lumpur dan sangat sempit.

Perjalanan menuruni tebing harus Anda lalui dengan menuruni ratusan anak tangga yang kemudian berganti menjadi jalan tanah. Jalan tanah ini cukup sulit dilalui dengan medan menurun, licin, dan Anda harus pandai memilih jalan yang dilewati. Hasta

AlemJP

AlemJP

No comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.