Breaking News
recent

komunitas Satoe Atap, Sayang itoe Asli Tanpa Pamrih

Apa yang ada dipikiran kalian saat mendengar kata “anak jalanan”?? beragam persepsi pasti muncul disini…mereka bisa saja dianggap sebagai pengganggu yang menjengkelkan di dalam bis kota saat suara sumbang mereka mengiringi perjalanan pulang kerja anda yang melelahkan dan diakhiri permintaan receh yang kadang sedikit memaksa, atau di lampu merah kota saat tangan-tangan dekil mereka meminta recehan yang jika sedang jail kadang mereka memukul-mukulkan tangan dekil itu ke kaca mobil hanya untuk 500an rupiah dari anda, mereka juga bisa dianggap bagian dari praktek terselubung mafia peminta-minta yang konon katanya pendapatan mereka sebulan macam direktur perusahaan atau pejabat senayan sana…mereka, anak-anak jalanan juga selalu identik dengan kekerasan, kriminalitas dan semacamnya sehingga sebagian besar dari kita lebih memilih menjauh dari mereka dengan berbagai alasan, semisal keamanan begitu...ya, sebagian dari kita mungkin berfikir demikian!! Tapi pernahkan kita berfikir jika mereka juga adalah bagian dari generasi penerus bangsa yang harus diperhatikan, mereka bukan generasi ‘gagal’ yang harus disingkirkan, sama halnya seperti anak-anak lain di bumi indonesia ini, mereka punya hak yang sama untuk menikmati hari-hari mereka layaknya anak-anak pada umumnya, bergembira, bermain, belajar dan bermimpi menjadi apa saja sesuai keinginan mereka dan mengejarnya sama seperti kita.

Di kota ini, Semarang…persoalan anak jalanan memang tidak ada habisnya, bahkan kecenderungan dari tahun ke tahun jumlah mereka terus bertambah, Dinas sosial mencatat di tahun 2014 ini jumlah anak jalanan di kota ini sebanyak 475 anak, jumlah ini meningkat jika dibandingkan tahun sebelumnya, 2013 yang jumlahnya sekitar 350 anak...jumlah ini diyakini masih belum seluruhnya karena masih banyak dari mereka yang belum terdata dinas sosial. Pemerintah berdalih jika penanganan terhadap anak-anak jalanan terhambat salah satunya akibat dari belum adanya perda yang mengatur secara khusus penanganan terhadap mereka, dan di tahun 2013 lalu perda itu telah dibahas oleh dewan yang terhormat dan di tahun 2014 ini katanya siap untuk di implementasikan. Kita tunggu saja hasilnya…

Tapi, diluar itu…pembinaan anak-anak jalanan di kota semarang sudah banyak dilakukan oleh berbagai yayasan, NGO maupun komunitas di luar pemerintah, sebut saja yayasan setara dan gradhika yang sudah sejak awal reformasi ikut turun tangan membina anak-anak jalanan kota semarang dengan program rumah singgahnya. selain itu berbagai komunitas juga ikut berperan mendampingi anak-anak jalanan ini, salah satunya adalah komunitas SAtoe Atap. Oke…bicara soal komunitas SAtoe Atap, sebetulnya sudah lama saya mengenal komunitas ini, sejak tahun pertama saya menginjakan kaki di kota Semarang ini yaitu tahun 2009.Saya mulai berkenalan dengan komunitas ini, saat itu Satoe Atap baru 1 tahun berdiri, komunitas ini terbentuk tahun 2008, saat itu saya sempat terlibat dalam beberapa kegiatan mereka. 

Saya masih ingat waktu itu mereka belum memiliki tempat untuk kegiatan pembinaan intensif, sehingga saat itu mereka masih memanfaatkan masjid diponegoro (masjid kampus UNDIP Pleburan) sebagai tempat kegiatan pembianaan anak-anak jalanan binaan mereka. Mereka membina anak-anak jalanan tanpa imbalan ditengah kesibukan kuliah dan segala macam tete’ bengeknya, karena sebagian besar volunteer adalah mahasiswa, dari sini saya menaruh respect yang besar kepada mereka, seperti halnya kerja para volunteer dimanapun berada…membantu sesama bagi mereka adalah cita-cita, dan pengabdian adalah manifestasi cinta serta ketulusan berbagi yang asalnya dari hati. Jujur, Saya tidak bisa menyembunyikan rasa kagum dan respect yang setinggi-tingginya dengan kerja-kerja semacam ini, dan komunitas Satoe Atap adalah salah satunya, disaat sebagian besar orang lebih memilih menjaga jarak dengan anak-anak jalanan, mereka justru memilih hadir, hidup membaur dengan mereka, belajar bersama mereka, berbagi inspirasi serta mengajarkan ‘mimpi’ bersama-sama mereka dengan senang hati… bagi saya ini sesuatu yang luar biasa…meminjam istilah Forum Indonesia Muda (FIM), komunitas Satoe Atap adalah seberkas cahaya di tengah kegelapan negeri ini, dan para pegiatnya adalah kunang-kunang yang akan  menebar terang  kemanapun ia pergi. Semoga....

Ae

Unknown

Unknown

No comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.