Breaking News
recent

Ekonomi Bisnis Pro Kontra Baliho, Billboard, Spanduk


Berbisnis dengan menggunakan ruang publik macam baliho, banner, spanduk tentulah harus menyeimbangkan dengan etika, estetika dan menyelaraskannya dengan budaya masyarakatnya.  Berbisnis di Semarang sebagai salah satu kota besar, jika boleh disebut kota metropolis  memang perlu mengedepankan media luar ruang. 

Ketidaksetujuan atas substansi billboard di kota besar  bukan barang baru. "Saya juga pernah protes pada rencana pemasangan sebuah papan reklame Triumph", ujar Amarullah Asbah, yang juga anggota Dewan Perwakilan Rakyat Jakarta. Triumph merek pakaian dalam wanita. Saat itu papan reklame Triumph rencananya bakal dipasang di kawasan Harmoni. Gambarnya model perempuan yang dibalut celana dalam dan bra. Tapi batal dipampang. Protes-protes itu mempertegas adanya benturan nilai di ruang publik. 

Gunadi Soekemi, salah seorang pengurus Asosiasi Pengusaha Media Luar Ruang Indonesia (AMII) berpendapat lain. Gambar-gambar papan reklame menurutnya masih dalam batas-batas kesopanan. "Pengusaha media luar ruang terikat dengan aturan tentang keindahan, kesusilaan, dan ketertiban," ujarnya. 

Pemerintah daerah menjadi penentu titik-titik yang direncanakan sebagai lokasi pemasangan papan reklame, wilayah mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Wilayah yang tidak boleh dipasangi papan reklame dinamai white area atau kawasan putih. 

"Billboard hanyalah reminder saja. Ia sekadar mengingatkan masyarakat akan sebuah produk tertentu", ujar Ari Wibowo  direktur Godha inn. Artinya, perusahaan masih harus menggunakan sarana iklan lain seperti televisi, koran, atau majalah. Dengan langkah itu dalam benak masyarakat akan tercipta brand awareness terhadap sebuah produk dan perusahaan tertentu. 

Memilih lokasi harus dengan tingkat traffic yang tinggi karena peluang untuk dilihat tinggi pula. Untuk menghindarkan kebosanan, billboard harus diganti setidaknya setelah terpasang selama tiga bulan. 

Perusahaan dengan sasaran bidik orang-orang kelas menengah ke atas, meminati lokasi pemasangan di jalan protokol. Di sanalah para eksekutif setiap hari lalu-lalang. Setiap kali melintas dalam benak mereka secara terus-menerus diingatkan akan adanya produk dan jasa tertentu. Perlakuan ini bertujuan merangsang minat beli mereka. 

Pro Kontra terhadap papan reklame, billboard ataupun baliho sebut saja satu contoh peristiwa yang pernah terjadi di Jakarta. Sebuah spanduk yang mengkampanyekan fasilitas dapur umum bagi para korban penggusuran oleh pemerintah daerah Jakarta dibentangkan di kawasan Kampung Rawa, dekat kantor dinas pajak Jakarta Barat. Para aktivis Urban Poor Consorcium (UPC) atau Konsorsium Kemiskinan Kota memberi makanan cuma-cuma kepada para korban penggusaran itu. Tetapi hari berikutnya para petugas Satuan Pelaksana Ketertiban dan Ketertiban Jakarta datang dan mencopot spanduk itu. Alasannya mengotori kota. 

Tentu saja spanduk itu dipasang tanpa mengikuti regulasi pemerintah daerah Jakarta. Tidak pula membayar pajak reklame. Tapi UPC menolak pencopotan itu. Afrizal Malna, seorang aktivis UPC, mengatakan orang-orang miskin kota terpinggirkan dalam perebutan ruang publik di Jakarta. Kaum miskin kota berhak atas ruang publik "Billboard itu menteror karena ia merupakan sebuah bangunan besar tetapi tidak bisa dihuni, orang miskin di sekitamya tidak memperoleh apa-apa," katanya. 

Menurutnya, sebaiknya reklame masuk ruangan saja, biarlah tempat umum dipakai untuk kepentingan lain. Selama ini para pengusaha iklan telah sewenang-wenang menempatkan billboard sedemikian rupa. 

Afrizal menolak billboard. Hal berbeda justru dikemukakan Gunther W. Holtorf, seorang warga negara Jerman yang sejak 24 tahun lalu memonitor perkembangan ruang publik.Menurutnya billboard sangat bermanfaat.”Billboard membantu orientasi pejalan kaki dan pengemudi mobil mencari daerah tertentu”, dalihnya.
Di jalan tol, orang bisa merasakan hal itu terutama billboard yang mempromosikan kawasan wisata, perumahan, dan sebagainya. Pengendara mobil bisa menentukan berapa jarak yang mesti ditempuh lagi untuk menuju ke lokasi itu atau tujuan lain yang berdekatan dengannya. 

Namun, Holtorf bilang kebanyakan billboard di Indonesia  bersifat sementara. Sering berganti-ganti hingga tidak bisa jadi patokan. Akibatnya orang malah kehilangan orientasi ketika billboard tiba-tiba hilang. 

Kini jumlah billboard telah banyak seperti pohon-pohon yang sengaja ditanam, dan di masa mendatang akan semakin banyak dan tersebar ke mana-mana. Warga kota sulit menghindari kehadirannya. Sepertinya, setiap jengkal langkah di situ billboard hadir. 
Kaburkan fokus

Billboard menyerang perasaan warga kota dengan code yang kompleks berisi pesan-pesan komersial. Setiap saat orang bepergian mengendarai mobil, menumpang bis kota, atau menonton pertandingan olah raga, pesan dan instruksi komersial itu menyerang otak mereka. 

Pemerhati yang menaruh keprihatinan terhadap billboard di Amerika Serikat lewat situsnya www.billboardliberation.com memberi peringatan akan bahaya itu. Digambarkan di kota yang telah dirimbuni billboard orang tak akan bisa lari, orang tidak bisa bersembunyi darinya. Gerak langkah warga kota telah dibatasi oleh horison simbol atau tanda. 

Perusahaan iklan hanya berlomba memasang billboard sebanyak mungkin. Mereka lupa, para penghuni kota memiliki hak untuk memandang ke luar secara bebas dan tak terhalangi. “ Pengaturan pemasangan billboard seharusnya tidak  acak-acakan," ujar Ari

Ari menyebut Sejumlah negara Eropa melarang didirikannya billboard di tepi jalan berkecepatan tinggi. “Alasannya mengganggu konsentrasi pengemudi kendaraan bermotor yang tengah melaju dengan cepat," katanya. Baginya  kini orang tak tahu mana yang boleh dan yang tak boleh di ruang publik.

”Hasta MS/Al


Unknown

Unknown

No comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.