Breaking News
recent

Bisnis Lampion. Menggiurkan

Jika tahun lalu Anda  berkesempatan berkunjung ke Expo Jateng Fair di Kompleks PRPP pasti Anda menjumpai banyak lampion yang di pajang disana.  Kerajinan khas Tionghoa ini, kini telah berubah menjadi inspirasi peluang bisnis yang menjanjikan. Lampion, selain digunakan dalam perayaan-perayaan hari besar suku Tionghoa, kini dapat kita jumpai dalam berbagai tempat dan kesempatan. Lampion yang mampu dikreasikan dengan berbagai bentuk yang menarik, dan dapat di customized (sesuai dengan permintaan) menjadi ladang bisnis bagi para kreator-kreator besar.

Membuat kerajinan lampu mungkin sudah biasa bagi sebagian besar masyarakat. Namun, kerajinan lampu dengan bahan baku utama benang jahit merupakan kreasi yang unik dan menuntut kreativitas yang tinggi. Dengan hanya berbahan benang, oleh tangan kreatif bisa disulap menjadi lampu hias nan unik dan cantik. Dengan modal murah, kreasi lampu dari benang bisa mencetak laba berlimpah.

Selain menggunakan benang jahit, lampion juga dapat menggunakan benang rajut. Prospek lampion rajut dinilai cukup bagus. Hal ini ditambah dengan banyaknya permintaan dari para pelaku usaha seperti resto, cafe, spa, dan jenis-jenis usaha lainnya. 

Gulungan benang dipintal untuk menghasilkan selembar kain. Asal kreatif dan jeli melihat peluang bisnis, gulungan benang tersebut bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan kerajinan lain yang tak kalah unik dengan omzet yang menggiurkan. 

Pelaku usaha yang memanfaatkan benang untuk membuat kerajinan tangan yang unik adalah Zumaroh, 27. Perempuan asli Semarang, Jawa Tengah, ini membuat rumah lampu dari benang jahit. Bukan itu saja, dia juga menghias lampion-lampion benang tersebut hingga menyerupai tokoh kartun atau karakter manusia.

Salah satu kegemaran Zumaroh adalah menggambar komik. Namun, proses membuat komik sangat lama dan memakan waktu. Suatu hari, dia melihat ada orang yang menjual lampion benang polos. Melihat kerajinan tersebut, dia berpikir rumah lampu tersebut akan lebih cantik jika dibentuk karakter ala tokoh komik.

Zumaroh membulatkan tekadnya untuk memulai bisnis. Dia menyiapkan modal awal sebesar Rp500.000 yang digunakan untuk membeli gulungan benang jahit, balon, bahan flannel, dan lem.
“Awalnya saya beli lampion polos yang dijual di pasar. Ternyata, perajinnya menggunakan benang jahit sebagai bahan utamanya. Setelah itu, saya mulai bereksperimen untuk membuat rumah lampu sekaligus menghiasnya,” katanya.

Dia menjelaskan, proses pembuatan lampion karakter tersebut susah-susah gampang. Tahap pertama, dia melilit benang jahit di seluruh permukaan balon. Setelah semua bagian tertutup benang, Zumaroh mengelemnya dan mengeringkannya hingga kaku. Langkah selanjutnya adalah proses yang paling sulit yaitu membentuknya menjadi karakter manusia atau tokoh kartun.

“Untuk desain, saya biasanya cari gambar kartun di Internet. Gambar tersebut saya cetak di permukaan kain flannel. Baru setelah itu, saya merangkai dan menempel cetakan di lampion. Langkah terakhir, saya pasang lampu,” jelasnya.

Setelah lampion bentuk tokoh kartunnya jadi, dia mengunggah foto-foto kreasinya ke media sosial. Zumairoh terkejut, karena banyak orang yang ingin memiliki produknya. Melihat peluang yang besar, dia mulai mempromosikan lampunya di dunia maya.

Seiring waktu berjalan, produk lampion tokoh kartun buatan Zumairoh kian populer. Salah satu hal yang membuat banyak konsumen memesan lampion benang adalah karena dia bisa membuat desain sesuai keinginan konsumen.

“Banyak konsumen yang menjadikan lampion benang sebagai hadiah. Oleh karena itu, mereka mengirim foto atau gambar orang untuk dibentuk menjadi lampion karakter. Model yang paling populer adalah lampion benang model yang menyerupai pengantin,” katanya.

Kini, Zumairoh dan 6 pekerjanya memproduksi 200—300 pesanan setiap bulannya. Sayangnya, jumlah tersebut masih belum bisa memenuhi semua permintaan konsumen. Itulah sebabnya, Zumaroh ingin menambah jumlah pekerja.

Harga lampion benang yang dibuat Zumairoh cukup terjangkau. Dia membandrol rumah lampu nan unik tersebut mulai dari Rp50.000—Rp85.000 per lampu untuk pasar ritel.

“Saya bisa mengambil margin keuntungan lebih dari 50% untuk tiap lampion benang. Modalnya memang murah, yang mahal itu idenya,” ujar Zumairoh. Jika menilik dari angka ini, Zumairoh mendapat omzet lebih dari Rp15 juta per bulan.

Zumairoh menuturkan, dia masih ingin fokus untuk membuat lampion benang yang unik. Meskipun saat ini bermunculan banyak pemain baru, dia tak gentar untuk berkompetisi. “Persaingan itu sehat karena akan memacu produsen menghasilkan karya-karya terbaik untuk konsumen.

Makin banyaknya permintaan pasar, semakin menambah kreativitas para perajin untuk mengikuti perkembangan mode dan permintaan. Tokoh-tokoh kartun menjadi favoritnya. Selain bentuknya yang sangat beragam, keindahan dan kerapihan menjadi penentu utama produk mampu diserap oleh pasar. Hasta MS

AlemJP

AlemJP

No comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.